21/09/2016

Angsa sebagai Metafora untuk Cinta

Oleh: Amelia Gray

Kaki seekor angsa, seperti kaki bebek, adalah ceker berselaput. Ceker itu kotor dan busuk karena menginjak tahi angsa dan lumpur. Sepanjang sejarah dunia tak pernah ada yang menjilati kaki angsa, kecuali angsa lain, mungkin, saat kaki itu masih menempel. Kaki angsa tampak seperti kelelawar rabies berkat warnanya yang pucat dan teksturnya.

Naik sedikit ke perut, kau bakal menemukan reruntuhan peradaban tahi angsa dan sampah kolam. Sampah kolam adalah istilah umum yang mudah terlewatkan, tapi cobalah pandang ia lebih dekat, hampiri secara pribadi. Angsa memakan rumput-rumputan, kerampak dan gulma kolam, yang bergumpal di mana-mana. Unggas-unggas itu juga mengganyang serangga, keong, dan udang jika mereka bisa menemukannya.

(Sampah kolam tentu begitu-begitu saja: tahi angsa, tahi ikan, tahi kodok, setengah kaleng bir yang dituangkan remaja teler, plastik, sisa fotosintesis, ganggang, gelembung abadi, kulit segi delapan yang terkelupas dari bola kaki, bangkai lipan. Semua itu melekat pada angsa yang mengapung-apung tolol di genangan danau kecilnya).

Para angsa memakan kecebong. Mereka sanggup menyeruput bayi amfibi itu sekawanan sekaligus, mencerna dan memberakkannya, dan sesekali angsa duduk di atas tahi atau berjalan melintasinya. Maksudku: setiap orang yang menyatakan angsa adalah hewan agung dan priayi pasti belum pernah melihat binatang itu dari dekat atau mengendus serbuan kuman yang berasal darinya.

Angsa-angsa akan menyerangmu bila kau mendekati sarang atau anak-anak mereka, kalau kau sok akrab dengan pasangan mereka. Ada takik-takik yang mirip gigi, atau tepatnya gergaji tukang ledeng yang biasa disebut Si Mungil Tim, pada paruh mereka. Jika kau coba-coba memotret angsa, ia akan mematukmu. Perhatian yang berlimpah membuat angsa murka. Angsa berleher panjang dan ia akan mematukmu. Ia akan menggigit dan mencabik dagingmu.

Para angsa hanya kawin sekali seumur hidup, yakni sekitar 10 hingga 15 tahun. Seseorang pernah menemukan angsa berumur 24 tahun dan barangkali unggas itu pun hanya kawin sekali seumur hidupnya, dan semua orang menganggap hal itu luar biasa walaupun sebenarnya si angsa bahkan tak cukup tua untuk menyewa mobil. Angsa itu tidak cukup tua untuk bisa kentut diam-diam di ranjang. Para angsa tidak punya ranjang. Mereka kelewat tolol untuk memiliki ranjang, dan seandainya punya, mereka pasti membuatnya penuh tahi angsa. Demikianlah pembicaraan tentang angsa untuk hari ini.



Diterjemahkan oleh Dea Anugrah dari "The Swan as Metaphor for Love." Tulisan itu terhimpun dalam buku kumpulan cerita pendek Gutshot (Farrar, Straus and Giroux, 2015) karya Amelia Gray.

Amelia Gray adalah penulis Amerika Serikat. Novelnya, Threats, masuk daftar pendek Hadiah PEN/Faulkner untuk Fiksi tahun 2013.

12/05/2016

Penembak Jitu

Sebidang rawa. Sebuah bukit di sisi timur sebidang rawa. Semak-semak di atas sebuah bukit kecil di sisi timur sebidang rawa. Dua gerumbul rapat semak beri hutan. Sebuah lubang hitam. Setangkai pipa baja sepanjang tiga kilan. Bebatan tali kain penuh gemuk dan lumpur. Sebuah teropong pendek. Sepucuk senapan jarak jauh. Seorang pemuda tugur, tengkurap dan basah dan kotor, dengan telunjuk menempel pada picu.

Ia melihat orang-orang bertudung melintasi rawa. Di bawah sana hujan tentu sama deras, tapi tiap-tiap butirnya seakan hilang, atau pecah, sejengkal dari tubuh mereka. Pemuda itu menyentak leher ke belakang, menyeka air di wajah, dan menurunkan kacamata berbingkai bulat yang bercokol di keningnya. Sehelai surat terendam di dalam saku kanannya, mengembang.

Pemuda itu menekan sakunya dan air meluap. Ia menempelkan lensa kaca mata sebelah kiri pada mulut teropong dan pandangannya justru jadi kabur. Ia menarik lehernya lagi, menaruh kacamata di dahi, dan kembali melihat rombongan yang melintasi rawa. Air terus menetes dari ujung perca yang terjuntai. Oeroeg mungkin takkan bekerja, pikirnya.

Ia mendapatkan Oeroeg, senapan itu, hampir dua tahun yang lalu, dalam sebuah serangan ke pos lima orang sekitar dua belas ribu langkah di selatan desanya. Dewan adat Pagardewou menetapkan aturan yang jelas tentang perampasan: pangan dan hasil bumi dan amunisi untuk desa, senjata dan barang berharga untuk orang yang pertama kali menyentuhya. Setiap orang hanya boleh mempunyai dua pucuk senjata api. Lebih dari itu, dia mesti memilih dan menyisihkan sisanya untuk orang lain. Oeroeg adalah senjata api pertama pemuda itu. Yang kedua adalah sebuah pistol. Ia belum pernah dan tak berencana menggunakannya dalam pertempuran.

Setelah berlatih sebulan, pemuda itu sanggup menembak mata seekor punai dari jarak dua ratus lima puluh langkah dengan Oeroeg. Kini, ia berjarak sekitar tujuh ratus langkah dari orang-orang bertudung yang diintainya lewat teropong.

Tembakannya bisa meleset. Basah barangkali membuat senapannya takkan bekerja. Tetapi itu justru hal-hal terakhir yang ia khawatirkan. Bagaimanapun, ia muskil menghabisi semua anggota rombongan. Ia hanya meraup enam butir peluru sebelum melarikan diri dari desa yang terbakar.

Ini perang sabil dan terberkatilah jari-jariku, bisiknya.

Oeroeg meletus dan salah seorang yang melintasi rawa tersungkur dengan kepala berlubang. Rombongan itu berhenti berlari. Mereka balas menembakinya, tapi bukan ke arahnya, dengan senapan mesin. Ia menekan picu sekali lagi dan seorang yang lain melolong. Bahu kiri orang itu kena dan senjatanya jatuh ke lumpur dan tangannya terjulai seperti selendang. Rombongan itu berpencar. Tak ada tempat berlindung di rawa, maka mereka hanya bertiarap berjauh-jauhan sambil mencari tahu dari manakah sebenarnya serangan datang.

Ia ingin sekali minum tembakau. Tidak ada orang yang tak ingin merokok sehabis mencabut nyawa. Tapi tentu ia tak dapat melakukannya. Hujan atau tidak, hanya orang tolol dan mayat yang tak keberatan posisinya diketahui musuh. Empat butir peluru dan sebelas setengah orang musuh, semua diam dan terbenam lumpur. Situasi itu seakan-akan bisa berlangsung selamanya.

Pemuda itu menekan sakunya lagi dan air kembali meluap. Ketika manusia mati, pikirnya, ruh mungkin keluar dari tubuh dengan cara seperti itu alih-alih naik perlahan seperti sehelai asap. Kecuali anak-anak. Ruh anak-anak mestinya kembali ke langit dengan cara paling luhur yang mungkin ada. Pemuda itu meletakkan Oeroeg di tanah. Ia mengambil surat dari sakunya, lalu mendekatkannya ke dahi. Kedua matanya terpejam.

Saat matanya membuka, hal pertama yang dia lihat adalah seorang lawan yang mengangkat badan dari lumpur. Ia menekan picu dan orang itu tertelungkup tanpa kemungkinan bangkit kembali. Melihat lawan-lawannya belum juga lari lintang pukang, pemuda itu mengerti: sejak awal korbannya umpan peluru belaka. Ia belum membunuh orang yang semestinya ia bunuh.

Tembakan yang terakhir membuat orang-orang bertudung itu tahu kedudukannya. Dalam hitungan serempak, mereka bangkit bersamaan dan berlari ke arah yang benar. Empat di antara sepuluh orang menghujani bukit kecil di sisi timur rawa itu dengan peluru senapan mesin. Sebutir pelor mendarat di lumpur, setengah depa di muka pemuda itu, dan sebutir lagi berdesing sejengkal dari kuping kirinya. Dia membalas. Satu orang mati dan satu orang hanya  terserempet di pinggang.

Pemuda itu mencarut dengan suara lemah. Sekarang, di kepala siapa pun peluru terakhirnya bersarang, hasilnya sama saja. Ia akan mati seperti anak perempuannya mati dan seluruh keluarganya mati dan ruhnya akan keluar dari tubuhnya seperti air meluap dari saku. Ia mencabut pistol dan meletakkannya di dekat tangan kiri. Orang-orang bertudung itu berpencar. Pemuda itu tahu mereka berencana mengepungnya. Ia mencari yang berbadan paling besar dan menilik ke arah dada. Ia menekan picu dan orang itu terpental dan mati seakan-akan buat dua kali masa hidup sekaligus.

Ia meletakkan Oeroeg di tanah. Mulut laras senapan itu mengeluarkan asap tipis yang segera ditelan hujan. Si pemuda bangkit, berjongkok, dan mengambil pistolnya. Ia bisa melihat bayang-bayang lawan yang mengepung. Jarak di antara ia dan mereka mungkin cuma tujuh puluh lima langkah.

Pemuda itu berlari dua puluh langkah dan mendengar bunyi daging tertembus pelor. Kacamatanya jatuh dan ia tersungkur dan peluru bersarang di tulang pahanya. Ia mengeraskan rahang dan tak ada bunyi yang lolos dari sela-sela giginya. Pemuda itu menyeret dirinya sendiri ke sebuah pohon duku dan duduk bersandar menghadap arah kedatangan orang yang menembaknya. Tangannya terpacak di gagang dan pistol itu terarah ke ketinggian sebatas perut orang dewasa.

Begitu bermuka-muka dengan si penembak, pemuda itu menarik napas. Sekilas, pandangannya terasa gelap dan ia mendengar bunyi mirip gonggong anjing yang terputus. Lawannya terjengkang dan melaung dan berguling-guling dengan tangan membekap selangkangan.

Ia tahu tak ada hal yang hari itu dia dan lawan-lawannya alami patut dijadikan bahan tertawaan. Namun ia tertawa juga, terpingkal-pingkal malah. Orang-orang bertudung lainnya tiba dan mulut senjata mereka terarah kepadanya. Ia menekan picu. Tak ada yang terjadi. Orang-orang basah dan kotor mengepung seseorang yang juga basah dan kotor dengan senjata api masing-masing. Situasi itu seakan-akan dapat berlangsung selamanya. Hujan seperti akan turun selamanya. Selamanya mungkin berarti empat puluh hari dan empat puluh malam dan air tergenang di bukit kecil itu dan rawa-rawa di bawahnya dan segala sesuatu di sana.

Di luar selamanya, aku mendengar pria-pria tua berbicara penuh keyakinan tentang sebidang rawa yang berubah jadi danau, dan bahwa tempat itu akan melindungi mereka.“Apa dan siapa saja yang melintas,” kata salah seorang di antara mereka, “takkan bisa mencelakai kami.” Betisku kebas dan kepalaku pengar dan aku mohon diri dari majelis itu dengan alasan hendak buang air kecil.

Kisah Afonso

Seekor buaya adalah seekor buaya adalah seekor buaya dan seorang manusia adalah seorang manusia adalah seorang manusia. Apakah itu truisme? Tidak. Afonso Garcia de Solis, misalnya, adalah seekor buaya adalah seorang manusia adalah penjelajah asal Eropa dan, menurut seorang ilmuwan antropologi, adalah seekor ikan baung yang, karena kesialan murni, berakhir sebagai lauk makan siang anak-anaknya sendiri.

Kami, teman-temanku dan aku, datang ke Tulang Bawang Barat, Lampung, atas undangan bupati. Ia baru berusia 35 tahun dan punya cita-cita untuk menjadikan daerahnya tidak hanya makmur dan tenteram dan bebas dari flu babi, melainkan juga pelopor dalam menjalankan urusan-urusan asyik. Perkara terakhir itulah yang membuat jalan kami bertemu. Pak Bupati menginginkan kisah-kisah tertulis yang bagus dan bukan semata artefak yang dilap-lap untuk Tulang Bawang Barat, dan kami, teman-temanku dan aku, menggotong keterampilan masing-masing ke tempat itu untuk memenuhi keinginannya.

Sewaktu teman-temanku berkumpul di kediaman salah seorang tetua adat di dusun Penumangan untuk mewawancarai dua orang pria pikun dan kemudian melihat-lihat sepucuk meriam yang konon punya hobi ganjil, yaitu menangis, sejak menembak jatuh sajadah terbang yang dikendarai oleh seorang penyebar agama asal Banten enam abad silam, aku menyelinap keluar dan mengobrol dengan seorang pedagang bensin eceran bernama Danil. Tampang Danil mirip Clint Eastwood semasa menyutradarai film Mystic River dan ia menjual bensin dalam botol-botol yang mirip botol susu berukuran besar. Dari dialah aku mendengar tentang Afonso untuk pertama kalinya.

Afonso Garcia de Solis membaca Rihla karya Ibn Batutta pada usia empat belas tahun. Dua tahun kemudian, ia dan seorang misannya dari pihak ibu mendaftar di angkatan laut kerajaan. Pada umur tiga puluh empat tahun, atau setengah windu setelah keberangkatan sepupunya yang kedua kali untuk mencari dunia baru, Afonso mendapat mandat untuk memimpin salah satu kapal dalam ekspedisi. Hanya, kali ini tujuannya adalah dunia lama juga, tepatnya di belahan yang masih kaya.

Sudah lama benar Afonso membayangkan negeri-negeri di Kepulauan Rempah. Bulan demi bulan terlewat. Badai dan angin mati. Kesialan dan kesialan berat. Pelbagai kota pelabuhan dengan daya tarik dan keganjilan masing-masing. Pelayaran itu memperkaya pengetahuannya, tapi tak sedikit pun membikin luntur khayalan tentang pulau-pulau yang berkelimpahan tari-tarian dan cahaya matahari, tentang para pria pemilik harga diri tinggi yang mengenakan gelang bahu bergambar kuda terbang dan pakaian dari kulit harimau, perempuan-perempuan molek terbalut kemben sutra yang menyembunyikan perhiasan serba-istimewa: anting emas dan perak berbandul batu-batu mulia pada tepi pusar dan bibir farji masing-masing.

Bukan ketaksesuaian impian dengan kenyataan benar yang membikin Afonso kecewa, melainkan perintah sang laksamana. Santa Clarina, kapal Afonso, mesti tinggal di kawasan paling selatan Pulau Samudera bersama sejumlah kapal lain berikut awak masing-masing. Afonso ditetapkan sebagai pemimpin. Tugasnya: memastikan kesinambungan perdagangan rempah dengan Kesultanan Banten dan, lewat jalur lain yang agak rahasia, dengan sejumlah bangsawan Kesultanan Palembang, serta menjaga keseimbangan kekuasaan di kawasan tersebut.

Mereka mendirikan tangsi selama enam hari. Pada hari ketujuh, seorang pria tua lumpuh dan seorang gadis buta berbadan tegap menghampiri Afonso. Pria itu punya jendol sebesar kepalan bayi di keningnya dan tampak seperti nabi yang kelelahan. Si gadis mengaku pernah ikut sejumlah kapal dagang dan telah melihat ujung dunia dan sudah mempelajari apa-apa yang perlu ia pelajari di dunia fana ini, termasuk bermacam-macam bahasa asing, sebelum menggores kedua bola matanya dengan kuku. Pria tua itu memperkenalkan diri sebagai Menak Kepala Tringgiling dan menyampaikan ramalannya bahwa Afonso akan berperan besar dalam sejarah kawasan itu dan ia berkepentingan menolong dengan cara menyerahkan gadis yang menggendongnya buat dikawini Afonso, ditambah sebuah azimat, yaitu sebutir benda kecil yang mirip gumpalan daki, untuk ditelan oleh sang penerima dalam keadaan terdesak.

Aku merasa cerita itu kacau dan terkesan mengada-ada. Meski aku paham demikianlah sifat cerita-cerita lisan, aku tetap menanyakan dari mana Danil tahu semua itu.

“Aku keturunannya,” katanya. Ia lalu mencondongkan badan ke arahku, membuka dan menahan kelopak mata kanannya dengan telunjuk dan ibu jari.

Aku mengangguk.

“Ada sedikit warna biru, kan?” tanyanya.

“Biru seperti laut,” kataku.

Saat itulah teman-temanku keluar dan menuruni tangga rumah panggung. Aku pamit kepada Danil dan menghampiri mereka. Salah seorang temanku bilang aku sungguh merugi karena melewatkan cerita tentang pepadun—singgasana yang dipakai warga untuk mengambil gelar adat—paling tua di kampung itu. Konon usianya sudah empat abad dan, kata temanku, empu yang membuat pepadun itu moksa, naik ke langit, puf, begitu pekerjaannya selesai. Temanku yang lain merekam pohon-pohon pepaya, rongsokan perahu yang tertelungkup di atas got, kandang ayam, lubang sumur, bungkus-bungkus rokok lokal, dan apa saja yang ada di sekitarnya sejak kami tiba di kabupaten itu dengan ponselnya. Dia tentu sudah tahu apa yang hendak ia tulis. Kecuali aku, semua orang tampak sudah tahu apa yang hendak mereka tulis, atau setidaknya sudah menggenggam sebuah plot, sejumlah karakter, atau satu suasana. Aku merasa bersalah sudah menghabiskan bayaran tahap pertama yang kuterima dari penyelenggara kegiatan ini.

***

Kami berangkat ke desa Pagar Dewa lewat jalan air. Beberapa temanku tampak keberatan saat usul itu dilontarkan dalam rapat, tapi jadi ringan kembali begitu panitia bilang mereka sudah menyiapkan pelampung untuk semua orang. Kenyataannya, aku tidak kebagian pelampung dan naik perahu motor paling kecil bersama dua orang teman, plus seorang pengemudi perahu yang mengenakan helm sebagai ganti pelampung. Begitu kakiku menjejak perahu, batas air membuat jantungku oleng seakan pemiliknya sedang merancap untuk kali pertama.

Lebar sungai itu kira-kira dua puluh meter. Kedalaman, dilihat dari beteng dangkal di kedua tepinya, kemungkinan besar tak sampai sepuluh meter. Selain eceng gondok dan semak belukar, tumbuhan di tempat itu hanya pohon-pohon berkulit abu-abu gelap dengan buah-buah coklat tua yang jika terendam air tampak seperti kotoran manusia. Setiap kali perahu kami berpapasan atau disusul oleh perahu lain, air meluap dan membasahi celanaku. Aku banyak menengadah, berharap ada raja udang atau elang ular bido atau kuntul putih atau cangak merah melintas. Tapi tak ada burung-burung. Kakiku terendam air butek dan leherku pegal dan pemandangan terbaik yang kudapat adalah buah-buah mirip kotoran manusia.

Perahu kami sampai di kuala yang mempertemukan Way Kiri, Way Kanan, dan Way Tulangbawang. Tanpa diminta, si pengemudi perahu berinisiatif menghentikan laju perahu dan mengisahkan sebuah cerita rakyat yang dianggap terjadi di sekitar ambang itu.

Alkisah, seorang resi bernama Menak Kepala Tringgiling dan para pengikutnya yang selama berpuluh-puluh tahun tinggal di tepi kuala menyingkir ke dataran tinggi karena kedatangan orang-orang bersenjata dari Banten. Orang-orang itu mengaku datang dengan damai dan tidak akan memaksakan keyakinan mereka kepada siapa pun. Mereka bicara benar. Yang mereka lakukan hanya mengubah padepokan Menak Kepala Tringgiling menjadi masjid, mendirikan tangsi, serta menetapkan pajak empat bulanan senilai sekarung lada untuk tiap-tiap kepala apabila sang resi dan para pengikutnya tetap ingin tinggal di wilayah tersebut.

Setelah berunding untuk kali terakhir dan sebelum menyingkir ke dataran tinggi, Menak Kepala Tringgiling berendam di muara dan menggosok daki serta amarah dari tubuhnya. Dua belas malam kemudian, di bawah bulan purnama, sekawanan manusia bermata biru dengan kulit dan ekor putih berlumut dan taring sepanjang badik merayap naik ke daratan, lalu mengoyak leher semua orang di pemukiman tepi muara itu—kecuali, tentu, satu orang yang dibiarkan kembali ke Banten untuk melaporkan kejadian tersebut.

Sultan dan para penasihatnya bukan penyuka takhayul. Maka, mereka menafsir kabar yang dibawa si penyintas. Mereka pikir orang-orang Hindu di Tulangbawang telah bersekutu dengan bangsa asing, bangsa yang sama dengan yang kini menguasai bandar Malaka dan sebagian besar perdagangan rempah di wilayah itu, untuk melawan Kesultanan Banten. Si pembawa kabar sendiri dipancung karena pengadilan memutuskan bahwa ia dan kawan-kawannya sedang mabuk ketika orang-orang asing datang menggempur.

Tiga pekan kemudian, Sultan Banten mengirim seribu dua ratus prajurit dan tujuh puluh tiga kapal ke Tulangbawang, dan seluruh anggota rombongan itu hampir menelan mata masing-masing sewaktu menyaksikan tangsi itu benar-benar dihuni oleh buaya. Buaya-buaya sungai dalam pelbagai ukuran, bukan manusia buaya, apa lagi manusia-manusia asing yang mirip buaya di mata orang-orang mabuk. Sejumlah prajurit bersaksi bahwa mereka menemukan potongan jari atau daun telinga atau cabikan daging di antara gigi-gigi para buaya sepulangnya mereka ke Banten.

Tapi tentu ada yang tak mereka laporkan ke keraton: meski berhasil merebut tangsi dan masjid, para prajurit itu terpaksa membiarkan buaya paling besar melarikan diri ke sungai. Baik tikaman tombak maupun peluru senapan mereka sama tumpulnya bagi kulit makhluk itu. Lebar buaya itu satu hingga satu setengah depa dan panjangnya lima belas hingga dua puluh lima tombak. Buaya itu bermata biru, berkulit putih, dan mempunyai moncong sebesar dua meriam yang dijajarkan.

“Mereka menyebut buaya itu Alfonso,” ujar pengemudi perahu.

Perkataan itu seketika memompa minatku. “Afonso?” tanyaku.

“Bukan, Alfonso, seperti nama ketua orang-orang Portugis di Malaka waktu itu.”

***

Di Pagar Dewa, kami kembali bertamu ke rumah seorang tetua adat untuk mendengarkan ceritanya. Aku tidak menyelinap keluar karena narasumber kami tidak sepikun yang sebelumnya. Tapi, tetap saja aku tidak memperoleh cukup bahan. Pria itu hampir selalu bicara dalam bahasa lokal dan tak seorang pun anggota rombongan yang paham bahasa itu tergerak untuk menerjemahkannya. Kata-kata yang bunyinya serupa ranting patah dan kaki terbenam lumpur berjejalan di kedua telingaku dan aku hanya sanggup mencerna tiga potong informasi: “ingatan saya sudah buruk”, “semua sudah saya sampaikan kepada Pak Toni”, dan “Pak Toni datang dari Malaysia, atau Sulawesi, bersama sepuluh orang lain dan dia adalah ketuanya.”

Di tengah-tengah pertemuan, salah seorang temanku berlari keluar sambil menjerit. Ia hampir mencebur ke sungai sewaktu potongan kayu yang dilemparkan salah seorang penduduk mendarat di tengkuknya dan membuat dia terguling dan pingsan. Begitu sadar, ia bilang ia merasa tidak punya kepala dan tertawa-tawa saja. Soal keributan yang sempat dia timbulkan, dia mengaku tidak tahu apa-apa. Ketua rombongan kami memutuskan untuk melupakan peristiwa itu. Tetua adat Pagar Dewa tentu mengatakan sesuatu. Tapi, seperti sebelumnya, aku tidak paham dan tidak ada yang peduli aku paham atau tidak.

Kami dijadwalkan berada di Tulangbawang hanya selama tiga hari dan itu adalah hari terakhir. Besok dan besok dan besoknya lagi aku sudah berada di Jakarta kembali dan tetap tidak mengerti potongan-potongan cerita itu mesti kuapakan. Andai pekerjaan itu adalah penulisan cerita bebas, tentu aku bisa menyelesaikannya dengan cepat. Aku punya sejumlah bahan yang dapat kuolah kapan dan dengan cara apa saja, tentang makhluk-makhluk angkasa luar atau misteri perempuan atau mimpi buruk atau pikiran-pikiran jahat atau adu jotos atau perjalanan naik kereta api. Tapi permintaan untuk cerita-cerita semacam itu sepertinya sedang surut.

Aku sudah bersiap-siap tidak akan diberi pekerjaan menulis cerita lagi oleh siapa pun ketika secara tak sengaja aku menemukan sebuah artikel di internet tentang cerita rakyat Lampung, cuplikan dari sebuah laporan penelitian etnografis. Penulisnya bernama Nanang Suprihantoni. Pada bagian akhir tulisan, tercantum keterangan bahwa ia adalah dosen antropologi Universitas Padjajaran, Bandung. Artikel itu sebetulnya hampir-hampir tak terbaca karena hampir seluruh bagiannya adalah pengulangan dari paragraf pertama. Namun, di bagian tengah, ada satu paragraf yang bisa kujadikan keping terakhir kisah ini. Berikut ini kupacak paragraf tersebut secara utuh:

“Sebagaimana dikatakan di atas, masyarakat Lampung juga mempunyai ceritera-ceritera yang sulit diproses (sic!) nalar. Salah satu contohnya adalah ceritera Alphonse Rabelais, seorang kapten tentara bayaran asal Perancis yang datang ke Tulang Bawang (kini Tulang Bawang Barat), Lampung, bersama kapal Portugis pada abad ke-15. Menurut warga lokal, Alphonse adalah satu-satunya legiun asing (sic!) yang selamat dari serbuan mendadak Kesultanan Palembang yang mengetahui perdagangan gelap bangsa asing itu dengan sejumlah bangsawan mereka. Meninggalkan rekan-rekannya, Alphonse yang tertembak di pinggang dan dada meloloskan diri dengan cara terjun ke sungai, tepatnya di pertemuan antara sungai Tulang Bawang, Way Kanan, dan Way Kiri.  Masyarakat lokal percaya bahwa pria tersebut, berkat persekutuannya dengan seorang dukun bernama Menak Kemala Bening untuk melawan Islam, mempunyai jimat yang memungkinkannya berganti rupa. Konon, tak lama setelah peristiwa itu, orang-orang desa Penumangan, salah satu desa di tepi sungai, menemukan ikan baung seukuran pria dewasa yang mengucurkan darah. Mereka menangguk ikan itu, tapi hanya satu keluarga yang berani menyantap dagingnya. Informasi yang terakhir ini  peneliti dapatkan dari seorang warga Desa Penumangan yang bernama Daniel. Ia mengaku sebagai keturunan langsung keluarga penyantap ikan baung raksasa itu.”

31/01/2016

Kematian Ulises




Belano, Arturo Belano**  kita, kembali ke Mexico City. Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak kepergiannya yang terakhir. Pesawat yang ditumpanginya melayang di atas kota dan ia tersentak bangun. Kegelisahan yang menekannya sepanjang penerbangan itu jadi semakin kuat. Dari bandara di Mexico City, ia masih harus melanjutkan perjalanan ke Guadalajara, yaitu kota tempat Pameran Buku yang mengundangnya diselenggarakan. Sekarang Belano adalah penulis yang lumayan beken dan kerap diundang ke acara-acara internasional, tapi ia jarang memenuhi undangan-undangan itu. Inilah kunjungan pertamanya ke Meksiko dalam lebih dari dua puluh tahun belakangan. Setahun yang lalu ia mendapat dua undangan dan berubah pikiran pada menit terakhir. Tahun sebelumnya ia memperoleh empat undangan dan berubah pikiran pada menit terakhir. Aku tidak ingat berapa banyak undangan yang diterimanya tiga tahun silam dan batal dia hadiri karena pikirannya berubah pada menit terakhir. Namun, kini ia berada di Meksiko, di bandar udara Mexico City, dan sedang mengekor rombongan yang sama sekali tak dikenalnya menuju zona transit untuk penerbangan ke Guadalajara. Koridor itu berujung pada sebuah labirin kaca. Belano berada di posisi bontot dalam barisan itu. Langkahnya terus melambat serta penuh keraguan. Di ruang tunggu, ia mengenali seorang penulis muda Argentina yang juga hendak ke Guadalajara, lalu cepat-cepat bersembunyi di balik tiang. Orang Argentina itu membaca koran yang halaman kebudayaannya (mungkin halaman itulah yang sedang dia baca) sepenuhnya membahas Pameran Buku. Tak lama kemudian laki-laki itu mendongak dan menyapukan pandangannya ke sekitar, seolah-olah sadar bahwa dirinya sedang diamati, tapi ia tidak melihat Belano, lalu tatapannya kembali terarah ke koran. Waktu berlalu dan seorang perempuan yang amat cantik menghampiri orang Argentina itu dari belakang dan menciumnya. Belano kenal perempuan itu, seorang Meksiko kelahiran Guadalajara. Pria Argentina dan perempuan Meksiko itu tinggal serumah di Barcelona dan Belano adalah teman mereka. Kedua orang itu bercakap-cakap. Lalu, entah bagaimana, mereka sepertinya sadar sedang diawasi. Belano membaca gerak bibir mereka, tetapi tidak menangkap apa-apa. Ia berdekam di persembunyiannya sampai pasangan itu pergi. Sewaktu ia meninggalkan tempat itu, barisan penumpang pesawat tujuan Guadalajara telah raib, dan ia sadar, diiringi perasaan lega yang mendalam, bahwa ia tidak kepengin pergi ke Guadalajara dan menghadiri Pameran Buku; bahwa sebenarnya yang ia inginkan adalah tinggal sejenak di Mexico City. Dan akhirnya memang itulah yang dia lakukan. Ia berjalan ke gerbang. Paspornya diperiksa dan tak lama kemudian ia sudah berada di luar, mencari taksi.

Pulang ke Meksiko, pikirnya.

Sopir taksi yang ditumpanginya melihat dia seakan-akan mereka adalah kenalan lama. Belano pernah mendengar cerita-cerita tentang sopir-sopir taksi Mexico City dan penjabalan di kawasan bandara. Tapi semua cerita itu kini menguap. “Mau kemana kita, Anak Muda?” tanya si sopir yang sebetulnya lebih muda ketimbang Belano. Belano menyebutkan alamat terakhir Ulises Lima yang ia ketahui. “OK,” kata sopir, dan taksi menjauh dari bandara dan mencelupkan diri ke kota. Belano memejamkan matanya, sebagaimana biasa dia lakukan ketika masih tinggal disini, namun sekarang ia benar-benar lelah sehingga matanya segera terbuka kembali, dan kota lama Belano, kota masa remajanya, menampilkan diri secara cuma-cuma. Tidak ada yang berubah, pikirnya, sekalipun dia tahu segalanya telah berubah.

Di luar, pagi menyerupai pemakaman. Langit berwarna kuning kotor. Awan-awan bergerak dari selatan ke utara, tampak seperti kuburan-kuburan yang mengapung; sesekali mereka berpisah dan menyingkapkan keping-keping langit yang kelabu, kadang mereka bertabrakan dan menimbulkan gemeretak kering yang tak terdengar oleh seorang pun, bahkan oleh Belano yang jadi sakit kepala karenanya, sebagaimana halnya dulu sewaktu ia masih remaja dan tinggal di Colonia Lindavista atau Colonia Guadalupe-Tepeyac.

Orang-orang yang berjalan di trotoar tidak berubah; mereka lebih muda, mereka bahkan mungkin belum lahir ketika ia pergi, tapi pada dasarnya wajah-wajah itulah yang dilihatnya pada 1968, pada 1974, pada 1976. Sopir taksi mengajaknya bercakap-cakap dan ia malas menanggapi. Saat matanya terpejam lagi, Belano melihat taksi yang ditumpanginya melaju dalam kecepatan penuh di sebuah jalan yang sibuk, sementara para perampok memberhentikan taksi-taksi lain dan para penumpangnya tewas dengan air muka penuh kengerian. Polah dan kata-kata yang samar-samar terasa akrab. Rasa takut. Lalu Belano tidak melihat apa-apa lagi dan jatuh terlelap bagaikan sebutir batu meluncur ke dasar sumur.

“Kita sudah sampai,” kata sopir taksi.

Belano melihat-lihat dari balik jendela. Mereka berada di jalan dekat tempat tinggal Ulises Lima. Ia membayar dan turun. “Apa ini pertama kalinya kau ke Meksiko?” tanya si sopir. “Tidak, aku pernah tinggal di sini.” “Kau orang Meksiko?” sopir itu bertanya lagi sambil menyorongkan uang kembalian. “Kurang lebih begitulah,” kata Belano.

Dan ia berdiri sendirian di tepi jalan, memandangi muka bangunan.

Rambut Belano dipotong pendek. Secuplik botak yang mirip tonsure***  membuat kulit ubun-ubunnya kelihatan. Ia bukan lagi pemuda gondrong yang sekali waktu berkeliaran di jalan-jalan ini. Sekarang ia mengenakan jaket kulit hitam dan pantalon abu-abu dan kemeja putih dan sepasang sepatu Martinelli. Ia diundang ke Meksiko untuk ambil bagian dalam kongres penulis-penulis Amerika Latin. Sekurangnya dua temannya juga diundang ke acara tersebut. Buku-bukunya dibaca (sedikit) di Spanyol dan seantero Amerika Latin dan telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Apa yang kulakukan di sini? pikirnya.

Ia berjalan menuju pintu. Ia merogoh buku alamatnya. Ia menekan buzzer apartemen Ulises Lima. Tiga buzz panjang. Tak ada jawaban. Ia menekan buzzer apartemen lain. Seorang perempuan menanyakan siapa dia. “Aku kawan Ulises Lima,” jawab Belano. Perempuan itu seketika menutup sambungan. Ia menekan buzzer apartemen lain lagi. Seorang pria berteriak: “Siapa?” “Teman Ulises Lima,” kata Belano, dan ia merasa semua ini semakin menggelikan. Pintu terbuka bersamaan dengan bunyi klik khas mesin dan Belano mulai menaiki tangga ke lantai tiga. Setibanya di ujung, keringat Belano bercucuran. Di hadapannya ada tiga buah pintu dan sebuah lorong remang-remang yang panjang. Di sinilah Ulises Lima menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya, pikir Belano, namun ketika ia menekan bel, timbul harapan tak masuk akal dalam dirinya untuk mendengar bunyi langkah sahabatnya yang mendekat dan kemudian melihat wajahnya yang tersenyum di antara celah pintu yang terbuka.

Tidak ada jawaban.

Belano kembali ke tangga dan turun. Ia berhasil menemukan hotel tanpa harus meninggalkan Colonia Cuauhtemoc. Ia duduk di tempat tidur lama sekali, menonton televisi Meksiko dan membiarkan pikirannya hampa. Tidak satu acara pun dikenalnya, tapi ia merasa acara-acara lama telah menyusup ke dalam acara-acara baru, dan rasa-rasanya ia bisa melihat tampang El Loco Valdes di layar atau mendengar suaranya. Lalu, sewaktu berselancar mengganti-ganti kanal, ia menemukan sebuah film Tin-Tan dan menontonnya sampai rampung. Tin-Tan adalah kakak El Loco. Ia sudah mati waktu dulu Belano datang untuk tinggal di Meksiko. Mungkin sekarang El Loco Valdes juga sudah mati. Belano mandi setelah film berakhir, dan kemudian, tanpa mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu, menelepon salah seorang teman lama. Tidak ada orang di rumah yang dituju. Hanya mesin penjawab, tapi ia tidak ingin meninggalkan pesan.

Ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. Ia berpakaian. Ia berjalan ke tepi jendela dan melihat-lihat Calle Rio Panuco. Ia tidak melihat orang atau mobil-mobil atau pohon-pohon, cuma lapangan konblok abu-abu dan kerangka jendela yang seakan-akan tak terpengaruh oleh waktu. Kemudian ia melihat seorang bocah laki-laki berjalan di trotoar (dari arah yang berlawanan dengannya) bersama seorang perempuan muda yang mungkin kakak perempuan atau ibu bocah itu. Belano memejamkan matanya.

Ia tidak lapar, ia tidak mengantuk, ia tidak ingin keluar. Maka ia kembali duduk di tempat tidur dan lanjut menonton televisi, merokok sambung-menyambung sampai batangan terakhir. Lalu ia mengenakan jaket kulit hitam miliknya dan turun ke jalan.

Sebagaimana lagu-lagu populer terus berulang di dalam kepalamu tanpa bisa kau tahan, Belano tak sanggup menahan dirinya untuk tidak kembali ke apartemen Ulises Lima.

Matahari mulai terbenam ke tepian Mexico City ketika, setelah serangkaian upaya yang gagal, Belano berhasil membujuk seseorang untuk mengizinkannya masuk ke bangunan itu. Aku pasti sudah hampir gila, pikirnya sewaktu ia menaiki tangga, dua anak tangga dalam setiap langkah, dan itu bukan karena ketinggian, bukan pula karena aku belum makan atau bahwa aku sendirian di Mexico City. Untuk beberapa detik yang, dengan cara tertentu, menggembirakan, dan terasa tak berujung, Belano hanya berdiri di hadapan pintu kamar Ulises Lima. Lalu ia menekan bel tiga kali. Saat ia berbalik dengan maksud kembali meninggalkan bangunan itu (meski bukan untuk terakhir kali, ia tahu itu), pintu apartemen sebelah terbuka dan muncullah sebongkah kepala gundul besar sewarna tembaga yang samar-samar terlihat dihiasi oleh cipratan cat merah (seakan-akan si pemilik kepala itu baru saja mengecat tembok atau langit-langit). Kepala itu menanyakan siapa yang dicari oleh Belano.
Pada mulanya Belano tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu tak ada gunanya mengaku bahwa dia mencari Ulises Lima dan ia juga tidak mau mengarang-ngarang alasan, jadi ia diam dan sekadar memandangi lawan bicaranya: kepala seorang pemuda yang kemungkinan besar berumur tak lebih dari dua puluh lima tahun dan, berdasarkan airmukanya, Belano menduga bahwa ia sedang kesal atau hidup dalam keadaan kesal permanen. “Tempat itu kosong,” ujar si pemuda. “Aku tahu,” kata Belano. “Jadi kenapa kau pencet belnya, idiot?” tanya si pemuda. Belano menatap matanya dan tidak mengatakan apa-apa. Pintu terbuka sepenuhnya dan si plontos itu melangkah ke lorong. Ia tambun dan pakaiannya cuma jins gombor yang bergantung pada sehelai ikat pinggang tua. Gespernya, sebagian tersembunyi di balik perut si pemuda, berukuran besar dan terbuat dari logam. Mungkinkah dia keluar untuk menghajarku? pikir Belano. Untuk sesaat mereka hanya saling pelotot. Tokoh kita Arturo Belano, pembaca sekalian, kini berumur empat puluh enam tahun, dan sebagaimana kalian ketahui, atau semestinya kalian ketahui, liver, pankreas, dan bahkan usus besarnya sudah ringsek belaka. Tetapi ia masih ingat cara baku pukul dan sedang memperkirakan kemampuan sosok berukuran amat besar di hadapannya. Semasa tinggal di Meksiko ia terlibat dalam banyak perkelahian dan tidak pernah kalah, sekalipun kini itu semua tak patut dijadikan patokan. Sekadar pertengkaran di halaman sekolah dan kedai-kedai minum. Belano memandangi si tambun, berpikir kapan sebaiknya ia menyerang, kapan saatnya menjotos dan di mana. Tapi pria itu hanya menatap Belano dan kemudian melongok ke dalam apartemennya, lalu seorang pemuda lain ikut keluar. Pemuda itu mengenakan sweatshirt bergambar tiga orang pria dalam pose bergajulan di tengah jalan yang dipenuhi sampah, ditambah tulisan Los Amos del Barrio****  dalam huruf-huruf merah di atasnya.

Sejenak Belano tersihir oleh desain tersebut. Sepertinya ia kenal orang-orang mengenaskan di dalam gambar itu. Atau mungkin tidak. Mungkin yang dikenalnya cuma jalan tempat mereka berfoto. Aku pernah di sana, bertahun-tahun yang lalu, pikirnya, bertahun-tahun yang lalu aku berjalan-jalan di sana, dengan segenggam penuh waktu dalam tiap-tiap kepalanku, tanpa tujuan.
Laki-laki berpakaian sweatshirt yang hampir sama gemuk dengan kawannya bertanya kepada Belano dengan suara yang serupa bunyi air mendidih. Belano tidak paham. Tapi dia yain itu bukanlah pertanyaan agresif. “Apa?” tanyanya. “Apakah kau penggemar Los Amos del Barrio?” ulang si pemuda.

Belano tersenyum. “Tidak, aku bukan orang sini,” katanya.

Lalu si gendut nomor dua terdorong ke samping dan si gendut nomor tiga pun muncul; kulitnya gelap sekali, mungkin dia jenis orang gendut berkumis mungil keturunan Aztec. Ia bertanya kepada teman-teman sekamarnya apa yang terjadi. Tiga lawan satu, pikir Belano, waktunya pergi. Si gendut berkumis kecil menatap Belano dan menanyakan tujuannya. “Si keple ini memencet bel apartemen Ulises Lima,” kata si gendut yang bertelanjang dada. “Kau kenal Ulises Lima?” tanya si gendut berkumis. “Ya,” jawab Belano, “aku temannya.” “Dan siapa namamu, bajingan?” tanya si gendut yang mengenakan sweatshirt. Arturo Belano menyebutkan namanya dan menambahkan bahwa ia sudah hendak pergi, juga bahwa ia menyesal telah mengganggu mereka, tetapi sekarang ketiga pria gendut itu justru kelihatan benar-benar tertarik padanya, tiba-tiba mereka memandangnya dengan cara yang berbeda, dan si gendut nomor dua tersenyum dan berkata: “Jangan bohong, tak mungkin namamu Arturo Belano,” tapi dari caranya mengucapkan kalimat tersebut, Belano tahu bahwa sekalipun belum yakin, dia ingin percaya bahwa yang didengarnya adalah sebuah kebenaran.

Kemudian Belano melihat dirinya sendiri—seolah-olah sedang menonton film, sebuah film yang kelewat sedih sehingga ia tidak akan pernah mau menontonnya—berada di apartemen pria-pria gemuk itu dan sedang ditawari bir oleh tuan rumah. “Tidak, terima kasih, aku sudah tidak minum,” ujarnya. Ia duduk di kursi berlengan yang sudah reyot, kain pelapisnya butek dan bergambar bunga-bunga layu, sambil menggenggam segelas air yang ia tak sanggup meminumnya, karena air di Mexico City, menurut sejumlah peringatan yang didapatnya, dan sebetulnya sudah dia ketahui sejak dulu, bisa membuatmu terjangkit gastroenteritis, sementara ketiga orang gendut itu duduk mengelilinginya di kursi-kursi lain, kecuali si telanjang dada yang duduk di lantai seolah-olah ia takut mematahkan kursi atau takut pada reaksi teman-temannya seandainya hal itu benar-benar terjadi.

Si gendut tak berbaju ini bertingkah seperti budak, pikir Belano.

Dan yang terjadi setelahnya kacau dan sentimental belaka: orang-orang itu memberitahu Belano bahwa merekalah murid-murid terakhir Ulises (itulah kata yang mereka pakai: murid). Mereka bercerita tentang kematian sang guru, bagaimana ia tergilas Impala hitam, dan mereka berbicara tentang hidupnya, serangkaian adu minum yang legendaris, seolah bar-bar dan tempat-tempat Ulises Lima teler dan memuntahkan isi jeroan adalah rangkaian berjilid-jilid karya lengkapnya. Dan pemuda-pemuda tambun itu terutama bicara tentang diri mereka sendiri: mereka punya sebuah grup musik rock bernama El Ojete de Morelos***** dan mereka tampil di kelab-kelab disko di pinggiran Mexico City. Mereka sudah menghasilkan sebuah album yang tak disentuh sama sekali oleh radio-radio resmi karena liriknya. Tapi stasiun-stasiun radio kecil memutar lagu-lagu mereka sepanjang hari. Kami mulai tenar, kata mereka, tapi kami tetaplah para pemberontak. Sesuai jalan Ulises Lima, kata mereka, api yang diwariskan Ulises Lima, puisi dari penyair terbesar Meksiko.
Sejalan dengan kata-kata mereka, lagu-lagu yang dimaksud pun akhirnya disetel, dan Belano duduk terpaku di kursinya, mendengarkan, mengempit gelas yang isinya belum ia minum sama sekali, memandangi lantai kotor dan dinding yang dipenuhi poster-poster Los Amos del Barrio dan El Ojete de Morelos dan grup-grup musik lain yang tak pernah didengarnya, barangkali kelompok-kelompok percobaan yang para anggotanya membentuk Los Amos dan El Ojete di kemudian hari: anak-anak muda Meksiko menatapnya dari dalam foto, atau mungkin neraka, sambil mengacungkan gitar-gitar listrik seakan sedang menghunuskan senjata, atau menggigil kedinginan.